Rabu, 22 Juni 2011

Lesson Learned National Geographic: Animal Behaviors in Gurls' Characteristics!

Memasuki zona waktu lesson learned National Geographic! Sekarang hubungan perilaku binatang sama tipe-tipe cewe. Dibantu yaaaa bim salabim ayoo baca prok-prok-prok!!

Flight Zone Mode (Gazelle):
Cewe waspada. Punya batas khusus untuk kabur dari 'pemangsa'. Kalo mau dapetin, masukin flight zone mereka, kejarrrr!

Temptation Mode (Cat):
Tipe cewe centil. Doyan mandi, bersuara menggoda, lenggak-lenggok tubuh di depan cowo. Mau? Tunggu musim kawin & S-A-B-A-R!

Independent Mode (Jaguar):
Cewe mandiri. Selalu ditinggal laki. Bisa besarin, ngasi makan, ngelindungin anak sendirian. Berotot pulaak! *Hormat grak!*

Fertile Mode (Rat):
Cewe yang posturnya biasa-biasa aja tapi subur! Setaun bisa beranak buanyaak. Banyak anak, banyak rejeki. Sayang anak...sayang anak.. *gimanacoba?*

Traveler Mode (Blue Whale):
Cewe doyan jalan-jalan keluar negeri tiap tahun...dan mau bawa anak + ngasi ASI. Figur ibu yang hebaaat! *salaman*

Philanthropic mode (Tortoise):
Cewe keturunan tajir. Baru ngelahirin, anaknya udah dikasih 'rumah'. Dermawan to-the-max!! *inisungguhnggapenting*

High-Gene Mode (Giraffe):
Cewe bakat model. Baru lahir udah tinggi. Buat cowo yang pengen anak tinggi, OK, untuk memperbaiki keturunan. *selamatmencoba*

Royal Mode (Queen Bee):
Cewe dominan. Bijak. Berbakat jadi pemimpin rakyat! Mau?? Terobos dulu nohh sarang lebah. Siap-siap bengep digebukin. *goodluck*

Ignorance Mode (Sea Turtle):
Cewe cuek abis. Baru ngelahirin, anaknya ditinggal, disuruh idup sendiri sampe gede.. hufff..jangan dikawinin.. *sigh*

Slow Mode (Sloth/Kukang):
Cewe santai. Malah kelewat santai. Hidup lambat. Sambil gendong anak, yang penting anak kenyang... *it'sTrue*

Kind Mode (Orang Utan):
Cewe baik. Ga pernah nolak dititipin anak tetangga. Dikasi makan, digendong-gendong, ilangin kutu. Contoohh nih, calon Ibu...

Hibernation Mode (Grizzly Bear):
Cewe disiplin sama istirahat anak. "Waktunya bobo siang! Cepet! Ngga ada main-main lagi.." *Bangun2TaunDepan* (-__-)

Cannibalism Mode (BlackBird):
Cewe YaHaBa alias Bahaya. Kalo kelaperan, anak sendiri dimakan! Makanya boys, kasih makan yang bener bini masing-masing.

Shocking Mode (Electric Eel):
Cewe suka ngasi surprise. Kalo diganggu cowo, dia ngasi kejutan listrik 60 watt! Bisa gamparang ato tonjokan. *pakeHelm*

Shalehah Mode (Arabian Camel):
Cewe solehah. Gaul sama syaikh. Pendiem, bulu mata lentik, tinggi, bibir sexy. Asik diajak jalan-jalan. Tapi berbulu! *hiyyaaaa*

Angry Mode (Woodpecker):
Cewe ngga santai. Kalo ngetok pintu ngga sabaran. TOK-TOK-TOK-toktoktoktoktok! | Mba, bellnya disamping... | Oh, maas maf....

Happy Mode (Kangaroo):
Cewe aneh. Mau seneng, sedih, berduka, waswas, grogi, cemas, tetep aja lompat-lompat (baca: keliatan girang). Cocok jadi sahabat!

Daredevil Mode (Patagonian Condor):
Cewe petualang. Bikin rumah dipinggir tebing. Hobi terbang & memandangi awan. *bikinpuisi*

SizeDoesn'tMatter Mode (Hippo):
Cewe pede. Menikmati hiduo. Doyan berjemur & berendem. Body XL, hati XXL. Bersyukur. Coba bayangin kalo KudaNil kurus jadi pegimane???

Lesson Learned National Geographic: Animal Behaviors in Boys' Characteristics

Saatnya lesson learned abis nonton National Geographic. Apa hubungannya perilaku binatang sama tipe-tipe cowo? Yuk liatt!

King Mode (Male Lion):
Cowo gagah perkasa, jantan, rambut megar awut-awutan OK. Tapi yang nyari makan cewe-cewe koleksinya. Giliran dapet, *kucluk-kucluk*, "Gw duluan!"

Unyu Mode (Penguin):
Cowo romantis. Monogami, kaya penguin. Giliran bini pergi, si cowo jaga anak. Unyuuu! Tapi sayang bogel + jalannya oyong.

Murder Mode (Spider):
Cowo rela berkorban. Abis 'bercinte', rela dibunuh sama si cewe. Rela mati demi cinta. Cinta buta boy!! *gaabispikir*

Beauty Mode (Peacock):
Cowo pesolek. Punya body bagus, doyan make baju warna-warni. Tapi cuma dikeluarin pas niat kawin... Opo too masss??

'Til Death Do Us Part Mode (Salmon):
Cowo doyan mudik. Abis ngerantau, pulang kampung, kawin, mati bareng sama si doi. Cintga mati.

Acrobatic Mode (Siamang):
Cowo atletis. Suka gimnastik. Show off! Jungkir balik, loncat sana-sini. Terus ditinggal cewenya pulang *bingung*

Faithful Mode (Pigeon):
Cowo setia. Monogami. Mau pergi sejauh apapun tetep balik ke rumah dan ngga nyasar. Akuuu bukaan, akuu bukaaan Baaang Toyiiibbb...

Unfaithful Mode (Crocs):
Cowo ngga tau diuntung. "Buaya" itu bisa kawin sama +- 25 cewe (fakta). Nyoblos sana-sini. Mau digebukin, tapi serem. Cabut bosss!

'Pasrah' Mode (King Cobra):
Cowo korban emansipasi cewe. Masa si cewe dipanggil "King" juga. Terus gw apaaa? *turutprihatinboss* (-___-)

Trans-sexual Mode (KelinciLaut):
Cowo fleksibel dalam arti yang sebenar-benarnya. Ada cewe jadi cowo. Ngga ada cewe jadi cewe, Pemuas diri sendiri. Hermaprodit. *ha?*


Udah dulu ahhhh...Nanti lanjut lagi....

Animal Behaviors in Boys' Ways of Getting Girls!

Lesson Learned National Geographic:
Animal Behaviors in Boys' Ways of Getting Girls!


Ini dia lesson learned nonton National Geographic tentang predator-prey alias tipe-tipe pdkt cowo ke cewe.

Speed Attack Mode (Cheetah):
Cowo yang ngebidik satu cewe. Siapin tenaga. Pdkt kenceng tanpa ba-bi-bu & gaspoll. Dapet sukuurr, ngga dapet langsung capek! Short term.

Ambush Mode (Crocs):
Cowo tenang, diam, jarang keliatan, deketin pelan-pelan. Pas doi lengah, HAP! Nyaplok dan geret ke dunianya. Bergerak efektif.

Stealth Mode (Black Panther):
Cowo yang lempeng, memantau dari jauh, terkesan ngga ngasih sinyal, ngga kebaca usahanya. Giliran sepi...serrgraaappp, ngomong!

Teamwork Mode (Wolves):
Cowo yang ngerahin sohib-sohibnya buat cari info tentang ceww. Dikondisiin, dipolitisir. Kejar konsisten. Pas momennya, terkam!

Eagle-eyed Mode (Eagle):
Cowo single fighter. Sabar. Tajam. Monitor dari jauh. Pas ada chance, menukik kenceng abis, kejar sampe dapet!

Omnivore Mode (Bear):
Cowo santai. Ngga punya tipe cewe khusus. Doyan leyeh-leyeh. Apapun jadi. Pas doi lewat, ngerasa OK, yaaa bolelaaah dicoba.

Scavenger Mode (Hyena):
Cowo yang doyannya makan 'bangkai' buruan predator lain. Energi sedikit, untung banyak. Yaah tukang rebut pacar laah...

Fighter Mode (Honey Badger):
Cowo pantang menyerah. Mau cewenya segarang ular kobra tetep diusahain. Mau digigit yang penting hajar terooosss!

Smell Mode (Shark):
Cowo yang nyium wangi pargum dikit langsung ngejar penasaran...Hiu tertarik darah *apacoba??*

Choking Mode (Anaconda):
Cowo tangguh. Lilit terussss sampe doi bilang, "Ok, ok, gw mau..". Sarkasme, tapi efektif. Premanisme sedikit.

Show-off Mode (Mantis/Belalang Sembah):
Cowo pamer. Sok jago berantem, ngeluarin jurus-jurus. Si doi lengah / kesengsem dikit, serggaaapp ceppprrraat!!

Acting Mode (Jellyfish):
Cowo kelemer-kelemer. Dikira lemah. Pas 'ikan' mendekat, jerrratt pake tentakel kuat-kuat! "Bilang 'iya' ngga lo?! Awas lo!"

Network Mode (Spider):
Cowo bermodal. Sini-sini main sama network guah. Giliran doi kejebak & nyangkut di jaring, ga bisa lepas. Mwahahahahaha! *evilgrin*

Signal Mode (Bat):
Cowo begadang. Bergantung sama sonar (eh, sinyal). Nelpon mulu ampe subuh. Nembak dapet, tidur. Ngga dapet, besok nelpon lagi.


Sekian pelajaran yang saya dapet abis nonton National Geographic. Learn from the animals! Love will find you if you try. Dibantu yaaaa, sim salabim jadi apaaa prok prok prok...

Jumat, 17 Juni 2011

Pesta Kecil 2,958mdpl

Minggu, 8 Mei 2008 – Aku bersama sembilan orang teman pendaki lainnya melakukan pendakian menuju puncak gunung Gede, Jawa Barat. Puncak Gede berapa di 2,958 mdpl (baca: meter diatas permukaan laut). Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango adalah salah satu tujuan wisata paling indah di kawasan Jawa Barat. Lokasi ini memiliki ± 3 jalur pendakian resmi yaitu Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana. Kami memilih jalur Cibodas sebagai starting point.


Kabut dan hujan rintik-rintik menyelimuti kami sepanjang jalan. Basah dan dingin. Kami melewati banyak sekali objek wisata di jalur pendakian ini. Sebut saja, Telaga Sunyi, Mata Air Panas, dan lokasi-lokasi kamp. Sudah lebih dari tujuh jam kami berjalan mendaki dengan membawa beban 40 liter dicarrier. Tubuh begitu lelah rasanya dan kedua kakiku sudah berkali-kali kesemutan. Pundakku terasa pegal akibat barang bawaan yang kelewatan beratnya. Jemariku mati rasa akibat hawa dingin. Tak terbayangkan bagaimana alam pendakian menguras energiku hingga hampir mencapai titik nol. Ingin sekali lekas sampai di lokasi kamp terdekat dari puncak yang bernama Kandang Badak. Aku hanya ingin duduk di dekat perapian dan menikmati hidangan apa adanya bersama teman-temanku.


Beberapa jam berselang, akhirnya aku dan tim tiba di kamp pada pukul 17.50 WIB. Hujan sudah berhenti namun kabut masih setia menemani setiba kami di lokasi. Kami mendirikan tenda beberapa meter dari sungai kecil dan mulai mempersiapkan api dan bahan makanan untuk dimasak. Temperatur menunjuk titik 12oC dan uap air terhembus dari mulut kami setiap kali kami bernafas. Jaket tebal dan syal yang membalut leher kami hampir tak dapat menahan udara dingin yang menusuk tulang. Kami duduk membuat lingkaran dan mulai menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk santap malam.


Kami mengeluarkan beberapa bungkus Indomie dari carrier masing-masing. Bungkus Indomie Goreng putih dan Indomie Rebus Rasa Ayam Bawang coklat akhirnya ‘dilepaskan’ juga dari sarangnya setelah terhimpit barang-barang lainnya di carrier. Kami membuat 3 perapian lengkap dengan nesting atau semacam panci kecil diatasnya. Satu perapian untuk memasak kopi dan dua perapian untuk Indomie. Air dididihkan dan kami gelontorkan lembaran-lembaran Indomie kedalamnya. Uap panas mengepul sementara Indomie tersebut tenggelam dalam buih yang semakin tebal. Kami memasukkan semua bumbu garam di nesting yang berisikan Indomie rebus dan diaduk seluruhnya. Di nesting sebelah, teman-temanku sedang meniriskan Indomie goreng dan mulai mencampurkan bumbu garam, kecap dan saus sambal di piring plastik. Air liurku sudah mengalir deras selama aku memasak Indomie tersebut. Terlihat beberapa temanku juga berkali-kali menelan ludah sembari mengaduk mie rebus di nesting. Dari aroma saja sudah bisa membunuh rasa lelah kami yang berjam-jam mendaki.


Sampailah kita pada santap malam dengan dua hidangan istimewa para pendaki! Indomie goreng dan rebus yang dimakan bersama langsung dari nesting-nya. Kami duduk melingkari perapian sambil menyeruput kuah Indomie rebus yang diedarkan pertama oleh salah seorang teman. Setelah itu menyusul Indomie gorengnya. Kami tambahkan 2 kaleng korned yang diaduk bersama Indomie tersebut. Kami harus membagi Indomie tersebut untuk 10 orang, sehingga kami merasa kurang di setiap suapannya. Bunyi sssshhhlllrrrrpppp di setiap seruputannya membuatku seperti ingin merampok jatah teman sebelah. Suara gemeretak geraham yang sedang menggilas bawang Indomie goreng pun semakin membangkitkan egoisme makanku lebih dari yang lain. Dinginnya udara dan lelahnya tubuh hilang seketika.


Sepiring rame-rame!”, sahutku.

Mau kuahnya lagi dong!”, ujar temanku yang lain sembari senyum-senyum dan menyeruput kuah hangatnya.

Gw baru dua suap nih…”, kata salah seorang yang pura-pura tidak kebagian.


Dingin, gelap, sunyi, pecah seketika oleh bias-bias cahaya perapian masak Indomie yang dimakan ramai-ramai dan berputar dari tangan ke tangan. Tidak ada momen yang lebih indah daripada menghabiskan malam di pegunungan bersama teman-teman sambil nyeruput Indomie sebelum tidur. Setelah pesta kecil tersebut kami beristirahat di tenda masing-masing. Beberapa bungkus Indomie masih aman tersimpan di carrier kami. Esok hari adalah tantangan lain. Medan pendakian akan semakin berat dan curam mendekati puncak. Sudah kami rencanakan untuk mengulang kesenangan tersebut setibanya di atas.


*** ***


Keesokan harinya, kami berhasil muncak! Pesta kecil kali ini dilaksanakan diatas awan. Di puncak Gede.Juga bersama Indomie, teman terbaik dalam petualangan kami.


NB: Iseng-iseng nulis Cerita Indomie, siapa tau.......

Selasa, 22 Februari 2011

Opa Boy

Dulu aku hanya berpikir bahwa mimpi hanyalah gambaran-gambaran imajiner yang ada di kepala manusia. Mimpi-mimpi itulah yang akan menentukan kemana hidupku akan dilanjutkan di masa depan. Terbersit olehku baru-baru ini bahwa mimpi dapat tumbuh baik di benak masing-masing orang maupun ditanamkan melalui orang lain.


*** *** ***


Ini cerita singkat tentang seorang teman baikku ketika aku masih bertugas di Batam, Kepulauan Riau. Kami memanggilnya Opa Boy. Dia berpostur sedikit tambun, dengan tinggi sekitar 182 cm, rambutnya sedikit panjang melebihi cuping telinga, berkulit sawo matang, dan membawa ribuan Rata Penuhamunisi bahan peledak tawa di tempat dia menginjakkan kakinya (baca: pelawak). Dia sudah berumur diatas 40 tahun dan termasuk orang yang dituakan di kantor kami di Batam. Oleh karena itulah kami memanggilnya 'Opa'.

Secara garis besar ada tiga golongan orang yang menempati Batam. Golongan pertama adalah mereka yang memang penduduk asli Batam. Golongan kedua adalah mereka yang berasal dari luar dan sudah menetap secara permanen di Batam. Kemudian golongan ketiga adalah mereka yang berstatus sebagai komuter dan tinggal di Batam hanya atas tuntutan pekerjaan. Opa Boy adalah 'penghuni' golongan ketiga ini. Opa Boy telah menghabiskan sekitar 8 tahun di pulau Batam dan termasuk salah satu saksi hidup dari berkembangnya segala pembangunan di pulau tersebut. Terkadang dia dipelesetkan sebagai Living Legend atau Frank Sinatra.

Lama masa kerjanya merupakan salah satu bukti bahwa ada ketidakwajaran yang terjadi di perusahaan tempat kami bekerja karena Opa Boy sudah terlalu lama ditempatkan di wilayah yang bukan wilayah tempatnya berasal. Apalagi penempatannya hanya di satu lokasi saja selama sewindu. Di kebanyakan perusahaan, karyawan akan ditempatkan di wilayah-wilayah tertentu selama 2-3 tahun. Setelah itu ada kejelasan atas penempatan selanjutnya. Nah, sirnanya kejelasan itulah yang menjadi problem untuk Opa Boy dan kami sebagai pendengar setianya mengiyakan.

Beban hidupnya untuk berhadapan dengan ketidakpastian setiap harinya membuat Opa Boy menjadi orang yang kadang terlihat kehilangan semangat hidup. Namun pandangan itu selalu berhasil ditepisnya dengan karakternya yang nyeleneh dan kocak. Dia bisa menghidupkan ruangan yang mulanya sunyi sepi menjadi hingar bingar karena lelucon-leluconnya walaupun seringkali nyerempet hal-hal khusus orang dewasa.

Terlepas dari tindak tanduknya yang terkesan slebor, menurutku dia termasuk orang yang memiliki cita-cita mulia. Dia ingin kembali ke Bandung, kota tempatnya berasal, untuk bisa menghabiskan hidup bersama istri tercintanya yang 11 tahun lebih muda. Cukuplah sudah perantauannya selama 8 tahun ini diarungi. Sudah terlalu banyak asam garam yang dia lalui. Bahkan anggapan ini mungkin telah melebihi kata pepatah "Cukup dengan asam garam kehidupan". Mungkin kehidupannya sudah terlalu asam atau asin. Bayangkan jika itu adalah makanan, kata 'terlalu' akan membuat kualitas rasanya jauh berkurang.

Dia sudah terlalu jenuh dengan rutinitas kantor yang monoton di Batam. Lengkap dengan segala intrik politik kantor yang seringkali membuat orang geleng-geleng kepala. Opa Boy ingin keluar dari lingkaran itu. Dia memiliki cita-cita untuk dapat menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Sebelumnya dia pernah membeli franchise merek dagang Mie Laos dan mendirikan sebuah resto kecil di salah satu jalan utama kota Bandung. Sangat disayangkan performa usahanya terlihat kurang berkembang di lokasi tersebut. Baru-baru ini dia mencuri waktu di sela kesibukan di Batam untuk merintis usaha restoran dengan spesialisasi menu bebek bersama istrinya di Bandung.

Kami sering bertukar pendapat mengenai jatuh bangunnya mendirikan usaha-usaha tersebut. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kehidupannya secara garis besar. Hanya saja kehidupannya belum sampai ke titik krusial dimana Opa Boy tiba di persimpangan dimana dia harus memilih. Bisnis atau karir. Mungkin mengambil keputusan untuk memilih salah satu dari dua pilihan tersebut akan terasa lebih berat daripada 8 tahun penempatan di Batam. Apalagi sekarang dia sudah berumur lebih dari 40 tahun.

"Anak muda harus jantan man!", ujarnya setiap hari kepadaku.

Dia termasuk salah satu orang yang menyemangatiku agar lebih berani mengambil keputusan-keputusan penting untuk hidupku ke depan. Ini terkait dengan pilihanku untuk meninggalkan perusahaan ini karena keinginan untuk melanjutkan master studi ke luar negeri. Namun, bukan ini yang terpenting. Cerita utamanya adalah kesediaan seorang Opa Boy yang hampir setiap hari menyemangati junior-juniornya untuk lebih berani mengambil jalan hidup yang lebih baik. Dia tahu betul bahwa keraguan akan datang untuk menutupi jiwa yang sudah mantap akan pilihan hidup.

Dia menanamkan jiwa keberanian kepada mereka yang lebih muda karena dia ingin orang lain lebih baik dari kondisinya. Bagaimanapun juga, dia sudah melihat hal-hal yang belum bisa dilihat oleh orang-orang yang lebih muda darinya. Maka dari itu, dia begitu menekankan pentingnya sebuah keberanian dalam mengambil jalan hidup yang lebih baik. Menurutku sikap seperti ini sudah jarang kita temui karena kebanyakan orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri.

"Kalo ada yang mendukung lo untuk cabut sekolah, gw dukung 300%!," sahutnya.

Aku tidak akan pernah lupa kata-katanya. Opa Boy adalah salah satu dari dua orang yang pendapatnya paling kudengar selama aku bertugas di Batam. Dia merupakan salah satu dari orang-orang yang begitu menghargai perbedaan baik dari segi umur, suku, latar belakang pendidikan maupun jabatan. Bagaimanapun juga yang paling penting adalah kesetiaannya untuk menyediakan 2 telinga hanya untuk mendengarkan keluh kesah atau kebingungan yang dihadapi oleh junior-juniornya walaupun pembicaraan itu berlangsung berjam-jam.


*** *** ***

Kami bertemu di restoran Bebek Guludug di persimpangan jalan Ahmad Yani, Bandung. Opa Boy bersama istrinya menyambutku dan kami menghabiskan sisa-sisa sore ngobrol ngalor ngidul tentang mimpi masing-masing. Lima orang karyawannya hanya tersenyum simpul melihat Opa Boy dan sang istri tertawa riang bersama seorang pemuda remeh. Itu aku. Sudah hampir sebulan lamanya aku meninggalkan Batam ketika bertemu Opa di restonya.

Lantas aku bergumam dalam hati, "Yes Opa, you're now living your dream..."

Kamis, 03 Februari 2011

Akhirnya tiba saatnya aku harus meninggalkan medan perantauan setelah menghabiskan 2 tahun 5 bulan di Sumatera. Babak baru kehidupan akan dimulai seiring dengan langkahku meninggalkan Pulau Batam, sebagai tempat terlama aku menghabiskan masa kerjaku di wilayah Sumatera. Aku terus mengingat-ingat setiap detail kehidupanku disana, namun rasanya seperti terlalu banyak hal yang dapat dituliskan.


**** **** ****


Sebelumnya aku pernah menetap di beberapa lokasi kerja yang berbeda. Medan adalah kota pertama aku menginjakkan kaki di Sumatera. Tepatnya 1 September 2008, pesawat Garuda Boeing 737-400 yang kutumpangi mendarat di lapangan udara Polonia, Medan. Saat itu bertepatan dengan hari pertama bulan Ramadhan. Menghabiskan bulan-bulan pertama di tanah orang dalam keadaan berpuasa memberikan kesan yang mendalam di benakku. Sepertinya Tuhan ingin memberikan aku waktu khusus untuk introspeksi diri dalam keadaan yang hampir benar-benar sendiri. Jauh dari keluarga dan para sahabat.

Beberapa hari setelah Lebaran tiba, aku bertugas ke wilayah Pematang Siantar. Sebuah kota kecil yang jarak tempuhnya sekitar 3 jam dari kota Medan. Kota tersebut berlokasi dekat objek wisata kebanggaan Sumatera Utara, yaitu Danau Toba. Aku melalui beberapa kota kecil di perjalanan ke Siantar seperti Lubuk Pakam dan Tebing Tinggi. Udara Siantar dingin dan tampilannya terlihat seperti kota tua dengan bangunan-bangunan lamanya yang masih berdiri kokoh. Mirip dengan Medan, kota tersebut memiliki moda transportasi umum yang khas yaitu Betor (Becak Motor). Kendaraan ini sangat khas, motor yang memiliki tempat duduk khusus penumpang yang ditempelkan langsung ke sepeda motornya. Yang membedakan Betor Siantar dengan Medan adalah unit motornya yang menggunakan British Small Arm (BSA) alias motor lama pabrikan Inggris yang dulu digunakan sebagai kendaraan perang. Dari kejauhan, deru suaranya seperti Harley Davidson.

Buatku pribadi, Medan adalah kota yang ditunjuk Tuhan untukku berbenah diri. Kota introspeksi. Kota tanpa keluarga. Kota lahirnya sahabat-sahabat baru. Singkat kata, aku menghabiskan sekitar dua bulan di wilayah Sumatera Utara dan ngekos di kota terbesar ke-3 di Indonesia ini.



**** ***** *****


Kemudian Ramadhan telah satu bulan berlalu dan aku diberikan amanah untuk ditempatkan di salah satu pulau terluar di wilayah timur Pulau Sumatera. Sebuah pulau antah-berantah yang bernama Tanjung Balai Karimun yang belum pernah sekalipun aku mendengar namanya seumur hidup. Pulau tersebut ditempuh dengan menggunakan pesawat tujuan Medan - Batam. Setelah itu dilanjutkan dengan perjalanan darat ke arah pelabuhan Sekupang, Batam. Lalu dijangkau via laut dengan kapal ferry selama satu setengah jam langsung ke pulau tersebut. Singkat kata, udara darat dan laut.

Pulau tersebut sangat kecil. Jarak terpanjang dari ujung ke ujung hanya 18 kilometer. Tanjung Balai Karimun dikelilingi oleh puluhan pulau-pulau kecil. Sebut saja Pulau Buru, Pulau Kundur, Pulau Sugibawah, Pulau Durai, dll. Kehidupan di pulau itu begitu sederhana. Tidak banyak hal-hal mewah yang ada. Mobilitas mayoritas penduduknya adalah motor dan kapal. Berpindah dari satu pulau ke pulau lain dalam satu hari adalah hal yang lumrah.

Selama masa kerjaku, beberapa kali aku melakukan perjalanan dinas ke pulau-pulau terluar dan wilayah-wilayah terpencil. Di kepalaku terpatri nama-nama tempat yang kurasa tidak diketahui kebanyakan orang. Tanjung Batu, Moro, Sei Guntung, Urung, Sawang, Selat Beliah, Meral, Tebing dan tempat-tempat lainnya. Wilayah Moro pernah kutuliskan di salah satu tulisanku. Oko Moro judulnya.

Aku menghabiskan waktu sekitar lima bulan di Tanjung Balai Karimun dan selama masa tugasku aku bertemu dengan begitu banyak sosok-sosok sahabat yang terlalu banyak untuk kusebutkan. Bagiku, mereka adalah figur-figur survivor yang berhasil membangun pribadi yang lebih baik. Figur-figur yang lolos dari lubang kenyamanan dan akhirnya dapat bersahabat baik dengan kesederhanaan. Sosok-Sosok yang selalu berbesar hati untuk merelakan dirinya ditempatkan di salah satu pelosok Sumatera yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang.

Aku ingat betul seperti apa rasanya menjelajahi pulau-pulau terluar Indonesia. Hilir mudik antar pulau dengan menggunakan kapal-kapal penghubung. Memandangi pesona laut di sekitar Tanjung Balai Karimun yang tampak sedikit menguning akibat dari banyaknya kandungan lumpur kuning di dasarnya. Di pesisir-pesisir pantainya masih banyak rumah-rumah penduduk beratapkan pelepah-pelepah daun. Sepanjang perjalanan menggunakan kapal ferry dari pelabuhan Karimun ke pelabuhan Tanjung Batu, aku melewati puluhan pulau kecil dengan vegetasi mangrove yang tumbuh secara alami. Di beberapa pulau terlihat tambak kecil buatan nelayan setempat untuk membiakkan ikan laut. Terkadang kapal yang kutumpangi berpapasan dengan kapal lain dan para penumpangnya saling melambaikan tangan.

Singkat kata, aku menghabiskan waktu sekitar lima bulan di kepulauan ini, sebelum aku kembali ditugaskan ke lokasi lain. Aku mendapatkan pengalaman yang begitu berharga selama menjalani masa penugasan ini dan hidupku berlanjut untuk ditempatkan di kota utama propinsi Kepulauan Riau ini yaitu Batam.

..bersambung...




Rabu, 02 Februari 2011

Lukisan

Pada suatu pagi ada seorang tua yang sedang menorehkan kuasnya pada sehelai kanvas putih. Dia adalah pelukis kenamaan yang cukup dikenal karena karya-karyanya yang bealiran realis. Tidak pernah seumur-umur ia memamerkan hasil-hasil karyanya dengan alasan bahwa lukisan bukanlah kesempatan bagi publik untuk menyanjung seseorang. Begitulah idealisme yang dia pegang. Momen yang paling dia takutnya adalah ketika naik-turunnya harkat dan martabat hanya ditentukan oleh pendapat publik yang mengonsumsi keindahan karya-karyanya, seperti yang dia perhatikan terjadi pada para seniman lokal yang terkemuka. Beberapa tahun belakangan ini, pemburu seni tidak sengaja menemukan karya-karyanya yang dia simpan di salah satu gubuk tua, tempat anak-anak asuhnya bertempat tinggal.

Baginya, seni tak lebih dari obat bagi hati yang sudah terlalu lelah akan indahnya dunia. Lukisan pun menjadi caranya berbicara. Panjang janggutnya, tambun badannya, sedikit sekali tutur katanya dan alangkah ringan jari-jarinya menggoreskan kuas di atas kanvas. Dia tak pernah memakai topi seperti pelukis-pelukis pada umumnya dan sebatang rokok pun tak pernah sekalipun hinggap di bibirnya. Sudah bertahun-tahun dia menghabiskan waktunya untuk duduk di atas kursi pendek beralas kain perca dan belacu.

Cat merah, jingga dan kelabu ia baurkan sedikit demi sedikit. Dia menarik kuasnya dari ujung kiri atas ke kanan bawah kanvas dengan tegasnya. Itu adalah semburat warna langit yang menggelora karena saat itu seluruh manusia bersatu untuk memerangi tirani. Warna-warna kelam memperhalus sosok-sosok manusia di kanvas tersebut. Sosok-sosok yang berlari di jalan raya seakan-akan menerpa angin dan tidak pernah membelakangi nasib. Manusia yang tumpah ruah ke jalan-jalan, seumpama bulir-bulir padi yang dituangkan ke dalam wajan. Berserak dan bergerak. Lalu, dia mainkan kuas-kuas kecilnya yang membawa warna-warna solid black dan broken white, membentuk aura pengepungan sejumlah manusia dalam lingkaran manusia lainnya. Melukiskan tak akan ada lagi perlawanan setelah ini karena sebagian dari mereka akan menyerah dalam waktu dekat. Kemudian sang pelukis memercikkan ujung kuas kecilnya ke kanvas, cat-cat merah dan pale yellow yang tampak seperti rasi-rasi bintang diatas kepala manusia. Seperti melambangkan amarah yang telah membobol tiap-tiap kepala manusia yang mengepung sejumput manusia lainnya dan akan berakhir pada hilangnya tubuh mereka dari tanah tempat mereka berpijak. Langit yang dia lukiskan berwarna ungu violet dan dihiasi oleh awan kelabu yang berulis di beberapa tempat. Tampaknya hujan –yang sering diartikan sebagai berkah dari Tuhan- tidak akan pernah lagi turun membasahi tanah tersebut. Jalan-jalannya berbongkah-bongkah tak terurus dan berkerak seperti baru saja dihantam gempa bumi. Langkah-langkah manusia yang mengepung sepertinya terlalu kuat bagi jalan tersebut. Tapak-tapak yang berat dan sangat berdaya.

Wajah sang pelukis merah padam saat berhenti sejenak dari menarikan kuasnya. Dia mengambil beberapa nafas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan. Kemudian dia menatap kilauan cahaya yang menerobos sela-sela daun pohon Angsana di muka terasnya. Dia ingin mengabadikan peristiwa itu dalam bentuk lain. Ia mencungkil acrylic kuning dan putih terang dengan pangkal kuas yang berbentuk seperti ujung sumpit. Mengkerucut dan terlihat seperti mata pensil dari jauh. Ia menggoreskan kilatan-kilatan cahaya dari awan-awan kelabunya. Dari jauh akan terlihat seperti jarum-jarum diantara tumpukan debu yang terkena sinar dan berkilauan. Cahaya-cahaya dari langit adalah awal mula diturunkannya kemenangan atas suatu kaum. Tenaga bagi mereka yang pernah hilang kekuatannya dan pencerahan bagi mereka yang hatinya pernah dikungkung rasa takut yang luar biasa. Sang pelukis seakan-akan adalah bagian dari mereka yang berlarian mengepung kaum-kaum yang semestinya disisihkan. Tidak ada rona-rona kekalahan dari apa yang dilukiskannya baik bagi sekelompok manusia yang dikepung, maupun mereka yang siap menghabisi. Tidak jelas mana korban dan mana pemangsa. Seperti pertarungan antara garangan dan ular kobra. Yang menang akan menjadi pemangsa, sedangkan yang kalah adalah korban. Itulah visualisasi yang diharapkan oleh sang pelukis. Tidak ada satu pun senjata yang dilukiskan oleh kuasnya. Itu adalah pengepungan tanpa senjata sehingga tidak ada warna-warna merah darah yang dilukiskan. Dia membenci peperangan yang berdarah-darah, yang kemenangan berarti harus menghabisi segala yang ada. Atau mengurangi jumlah oposan sehingga pertempuran dapat dimenangkan akibat salah satu pihak kalah jumlah.

Jika diperhatikan, maka akan terbaca pesan-pesan yang akan disampaikan oleh sang pelukis. Dari goresan kuasnya akan terlihat sangat kontras, sebab seorang yang sangat halus perangainya sedang menggambarkan perseteruan. Padahal dia sendiri tidak pernah mendukung perselisihan dalam bentuk apapun. Namun jika berkata soal keadilan, maka pelukis tersebut adalah orang yang paling lantang berbicara. Walaupun sebagian besar kata-katanya dituangkan diatas kanvas.

*** **** ***

Hidup tak selamanya adil dan menyenangkan. Apalah artinya sebuah lukisan jika tidak pernah ada seorangpun yang menikmatinya. Maka tidak akan ada yang berkata indah atau buruk. Begitu juga dengan realita dimana banyak kejadian yang sangat menyalahi nilai-nilai untuk saling melindungi dan tergantikan oleh buasnya penindasan-penindasan di muka bumi. Apalah artinya peristiwa jika tak ada seorang pun yang berniat untuk mengubahnya. Itulah sifat-sifat linear dari ketamakan manusia. Penindasan tidak akan pernah berhenti jika benteng pelindung tidak pernah didirikan. Mereka yang terlanjur berfoya-berfoya menindas kaum yang lain akan seyogyanya merasakan apa yang mereka lalukan. Seperti kaidah hukum kausalitas yang paling sederhana, ada sebab ada akibat, ada akibat maka akan teciptalah sebab-sebab yang lain dan bernilai ganda atau dua kali lebih kuat sebabnya dibanding sebelumnya. Rumit memang dan sangat tidak logis. Tetapi itulah yang digambarkan oleh sang pelukis.

Dia tiba-tiba memperlihatkan sisi lain dari dirinya. Surealis, kata orang. Ibarat musik, dia akan berubah dari pianis klasik, menjadi pianis yang bernada-nada minor dan terkesan menghantui semua pendengarnya. Nada-nadanya terdengar sumbang namun harmonis jika dijadikan sebuah lagu. Sekarang ia melukiskan tangan-tangan yang berjatuhan dari langit seperti hujan. Hujan telapak tangan terikat tali-tali yang ujungnya berada di balik langit. Telapak-telapak tangan yang halus permukaannya. Tidak jelas siapa yang menjulurkan. Apakah itu tangan yang diturunkan oleh malaikat-malaikat utusan Tuhan atau memang orang-orang yang lebih dulu meninggalkan dan ingin membantu mereka yang mengepung kaum yang lain, tidak ada yang dapat mengerti.

Sebuah kejanggalan akan terlihat dari kaum yang terkepung. Mereka yang berada di dalam lingkaran dan sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut. Di tangan-tangan mereka akan terlihat kepala-kepala yang pernah mereka penggal dahulu kala. Sebagian telah menjadi tengkorak dimakan usia dan sebagian seperti masih segar berteteskan darah. Beberapa diantara mereka terlihat membawa kain-kain hitam yang menutupi kepala-kepala tersebut. Seperti menyembunyikan kekejaman yang mengisi masa lalu kaum tersebut sebelum dilakukan pengepungan. Pelukis tersebut menggoreskan kuasnya seakan-akan menggambarkan gunung yang runtuh berbongkah-bongkah. Diatas gunung tersebut dilukiskannya warna langit yang terang benderang diantara kelabunya awan-awan. Kontras. Seperti halnya saat kita melihat purnama di langit malam yang kelam. Sebuah bendera bergaris pinggir heksagonal dan berbintang biru terlihat compang-camping dan melayang dari puncak gunung tersebut. Bendera yang didasari warna putih raksasa itu jatuh melambai-lambai. Bagian kanan bawahnya telah habis terbakar dan api masih akan merambah hingga menghabiskan seluruh bagiannya sehingga bendera tersebut tidak akan pernah dikibarkan lagi di waktu-waktu kedepan.

Mereka terkepung oleh sejumlah manusia yang lebih besar karena mereka pernah menggunakan nama Tuhan untuk menghabisi ras-ras lain. Sang pelukis menorehkan beragam warna kulit diantara kaum-kaum yang berlari mengepung. Putih pucat, hitam legam, coklat sawo, putih kemerah-merahan, coklat tua berbinar-binar dan seluruhnya beragam. Seperti segala perwakilan bangsa seluruh penjuru dunia bersatu padu memerangi kemuslihatan. Mereka sudah muak dengan manipulasi-manipulasi yang memenggal hak-hak bangsa lain. Ketika sang pelukis mengoleskan kuasnya pada kanvas, dia berkata pelan “…Magna Charta”. Kemudian dia melukiskan sekelompok besar burung yang tidak bersayap namun tetap terbang bertiupkan angin. Wingless and as free as a wind. Burung-burung tersebut adalah representasi kaum pilihan yang ditakdirkan untuk bebas walaupun tidak memiliki kemampuan dasar untuk terbang, seperti yang tertulis dalam Magna Charta, kebebasan adalah hak setiap bangsa. Sudah semestinya takdir harus diubah karena tidak sepenuhnya takdir menjadi sesuatu yang statis. Manusia mempunyai kodrat untuk mengubah takdir, seperti nomenklatur yang telah tertera di salah satu surat di kitab suci umat Islam Al Qur’anul Karim. Pengubahan takdir itu sendiri adalah takdir yang telah ditetapkan Tuhan. Sang pelukis pun sangat mengerti apa itu takdir dan dia sangat meyakini takdir.

Sang pelukis mengambil kuas terakhir yang masih bersih belum terkena satu pun cat. Setelah itu dia mengambil setuba cat putih. Akhirnya dia meletakkan kuasnya pada secanggkir penuh air, sehingga cat putih tersebut memendar terlarut air. Sepertinya dia baru saja menyudahi lukisannya. Adzan pun bersahut-sahutan di udara tanda bahwa waktu Zuhur telah tiba. Sang pelukis meninggalkan kanvas beserta kuasnya di teras dan bergegas untuk mengambil wudhu untuk shalat. Dia baru saja menggoreskan sesuatu bertuliskan huruf sambung yang terbaca; Hail Palestine, Peace for Palestine.