Minggu, 11 Desember 2011
Anjing!
Pelupuk dara yang mati bersemayam,
terlihat tinggal rangka dibanting jeram-jeram
Bapak kita tak lagi kepalang
dan nafkah terlucut dari haribaan kita
Di rantau pekikan saudara
Bunda diikat, janda-janda sekarat mendegupkan vena
Tapi kecaman penyamun melanjutkan durja
Anjing !
Jangan ambil kakak kita !
Jangan ambil kakak kita!
Sayup-sayup mimpi…
Sayup-sayup mimpi menuju kelu nyanyian nisan
Mayat-mayat bangkit mencari kekosongan belantara
Reguklah nafas kita,
ambil rusuk-rusuk sampai dada pada lebam
Kita bikin pesta,
dengan mayat-mayat di kekosongan belantara
Anjing!
Pasir dan peluru menerobos rumput kering dan badan basah
Kejujuran persimbahan mayat oleh darah
diburu lencang laras
senapan, meriam, bedil! Merobohkan nyawa
dikala warta tiada lagi membuana
Air mata pada pegangan kita yang terantuk suratan malam
Anjing! Anjing!
Berlarian!
Raung anjing meledakkan kekosongan
Jakarta, 20 Agustus 2005
#Buat saudara-saudara yang bersabar di Nanggroe Aceh Darussalam
Di Anyer Di Hati
Pasti tiba kesenyapan malam terpanjang
Perempuan mendoa kala
lembayung senja bersemayam dari angkasa
Kebisuan tak dapat diperlama lagi
Jam tiada lagi berdentang
Waktu tak mau memberi
janji yang kuikrar
juga hati selalu berharap untuk dibongkar
Aku tertambat berkesendirian
Kapalku karam oleh deburan
Menebak nasib waktu yang terpacu-lari
Singgungan hati telah perempuan curi
Habis sudah asa
Hidup cuma sekerdip saja
Anyer, 4 Februari 2006
Di Penghujung Hari
Yang bernama matahari, yang melepuhkan padangpadang berkesendiri
Berlelah-lelahlah, setelah teriknya siang menyinari diri
Bergetar-getarlah, senja ini kita menangkan lagi
Ini jalan panjang
Menutup duka dan makna-makna hidup yang terbilang
Aku mau lihat bulan datang, bebintang gemelintang
Juga kecipak ribuan diri, di tepi sungai-sungai sepi
Berkesiap atas nama jiwa yang berkenang mati
Aku dengar panggilan-panggilan Tuhan
Bahasa yang diatasnya langit dijunjung
Menghempaskan debu-debu berpenuhkan doa
Bentang membentang dari sisi samudera hingga gunung-gunung jingga
Aku lihat derap-derap kaki kita
Juga tubuh yang berlumur dosa, sekian lama
Aku cium wewangian dari rentetan tubuh yang meminta
Merebakkan rona dan terbelaskasih oleh udara
Ini malam panjang
Bagi mereka yang meratap dan mengiba
Syurga akan datang
Ditengah manusia yang bertempur dengan gelapnya jiwa
Sementara doa-doa sibuk beterbangan
Diantara airmata yang jatuh
Mengharum semalaman dipangkuan
Melecutkan diri, menjulang tinggi diatas nanti
Sebentar lagi fajar akan mampir kemari
Aku sudah bosan dengan udara bertuba
Di surau tua, lahirlah sujud-sujud ini
Desau surat-surat-Nya, ibarat memerdekakan angkasa
Hingga hitam bukan hitam lagi
Dan putih (senantiasa) terlukis disini
Aku seperti pesujud larut
Aku adalah penyerah diri
Aku mau berpulang lagi
Ramadhan menyelimuti kini
Hari suci memendarkan lagi
Tuhan, gugurkan segala pedih peri
Batam, 14 Agustus 2010
Dari Statenlaan 255
Dedaun berjatuhan di trotoar Statenlaan
Ini malam tanpa suara
Bisu, setan-setan enggan berpesta
Setelah tuntas semalaman berlupa
Wajah kuyu dan tenaga dihempas udara
Aku mau denting piano, gitar, dan nada-nada
Bukan lampu yang berpendar, tak kuasa membawa cahaya
Aku mau lembaran cerita
Tentang cinta, sahabat, dan cita-cita
Atau bisingnya tawa Durstedelaan, dilemparkan di ruang kita
Dulu matahari sering muncul menghidupkan hari
Berbagi cercah kepada mereka yang mengejar mimpi
Sebelum tinggi melayang tak berpesan berpandang
Sembunyi dibalik waktu dan menerawang
Burung-burung enggan bersarang, mencuri hijau yang kembali hilang
Kelabu datang mengarak udara, merampas segala yang kita pegang
Tiba menyisip apartemen dan sepeda, hawa yang jatuh dibawah satu
Dada mendegup detak, berdiam diri meregang beku
Bawakan ku Bandung, Denpasar, Jakarta!
Adzan, teh seduh, pasar, dan toko buku tua
Dan manusia yang lelah menunggu disana
Hidupkan kota kita! Sampai jiwa bangkit dari peraduannya
Ini malam tak berpejam, sebentar pagi kembali mengetuk hari
Cahaya masih tenggelam, rona kota masih melari
Aku tidak peduli, tubuh yang ada untuk menerjang hidup lagi
Aku tidak peduli, selamat datang kini!
Tilburg, Belanda, 28 November 2011
Menunggu Salju
(Penantian) Kiriman dari angkasa
Aku bertemankan saksi-saksi
Yang mencari warna lain, kebahagiaan diri
Aku mau lihat Mikail yang mengharumkan udara
Dengan tulisan dan lukisannya
Pepohon berdekatan dengan mati
Rimbun bergeser dengan hilangnya daun
Seakan hidup terlalu hidup, mati terlalu mati
Dibawa ruh yang menjinakkan embun
Gedung-gedung meretak
Langkah pun jauh dari menjejak
Ada gadis berdiri di balkon sunyi pasi
Berharap ingin melahirkan mimpi
Dan mengirimkan air mata,
untuk mereka yang bersenang di kota
Ku bilang, "Sia-sia..."
Matahari sudah lama pergi
Mengkhianati kami yang beku disini
Seperti ayah ibu
Yang bosan menunggu
Dua puluh tahun berlalu
Dulu aku tidak mengenal sedu
Saat Urbana diperangkap dingin
Amerika, namun bukan itu yang kuingin
Kirimkan aku buliran
Bersama uap yang menghias badan semalaman
Jangan turunkan deraan
Cukup mereka yang putih, sepercik tangan
Lihatkan aku, Mikail dan tentaranya
Menjatuhkan rezeki bagi sebagian kita
Walaupun buram nanti
Aku mau bertemu lagi
Sebentar lagi salju datang
Memutihkan hati yang lapang
Mereka bilang selamat natal
Bagiku selamat tinggal
-Tilburg, 6 Desember 2011-
Selasa, 29 November 2011
Tentang Senyum Seorang Sahabat
Ini adalah cerita tentang seorang sahabat. Hampir satu bulan lamanya setelah sahabatku itu pergi. Ke tempat yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh manusia pada umumnya. Cukup lama kutekuri kepergiannya hingga beberapa pesan tentang hidup muncul di kepala.
Sudah tiga belas tahun aku mengenal dia sejak pertama kali kita bertanding sepakbola di lapangan SMP N 115. Kemudian masuk sekolah menengah dan universitas yang sama. Dari rekan setim basket SMA hingga akhirnya menjadi rival di kampus. Bagaimanapun juga, kami ada di kos yang sama dengan kamar yang saling berhadapan. Setelah kelulusan tiba, dia bekerja di salah satu perusahaan energi kelas satu di dunia. Akhir-akhir ini kudengar dia dipromosikan menjadi salah satu team leader termuda di perusahaan tersebut.
Sahabatku itu adalah salah satu orang yang diam. Tidak banyak bicara kecuali jika diperlukan. Walaupun sesekali bercanda tentang tim sepakbola, ujian, atau gadis idamannya. Seringkali aku mendapatkannya mengurung diri di kamar. Membaca. Entah itu buku wajib calculus atau komik One Piece. Beberapa bulan setelah kelulusan, aku mendengar kabar bahwa dia akan menikahi gadisnya itu.
Kemudian kehidupan berjalan masing-masing. Tidak terlalu banyak cerita. Apa adanya saja.
*** *** ***
Pada tanggal 30 Oktober 2011 pukul 00.30 dini hari waktu Belanda, aku mendapatkan pesan pendek dari seorang teman. Berita duka. Sahabatku berada dalam minibus travel yang terguling di kilometer dua tol Pasteur, Bandung. Nyawanya tidak terselamatkan. Beritapun menyebar demikian cepatnya dan itu adalah saat dimana seluruh orang yang mengenalnya serentak berkata, "Tidak percaya!". Kudengar bahwa dia dalam perjalanan pulang menuju Jakarta setelah mengunjungi istri dan anaknya di Bandung beberapa jam sebelum musibah itu terjadi.
Bukan hanya aku, tetapi semua yang mengenalnya mengakui bahwa sahabatku merupakan salah satu orang yang berakhlak baik. Beberapa hari setelah pemakaman aku membaca beberapa tulisan dari rekan-rekan kampusnya. Seluruhnya menyebutkan tentang kesan dan pengalaman pribadi mereka dalam berinteraksi dengan sahabatku itu. Bagaimanapun juga Tuhan punya cerita lain. Diantara rentetan memori baik tersebut, Dia menyisipkan peringatan bagi kita semua. Bahwa ajal sepenuhnya menjadi kuasa-Nya. Sebuah panggilan yang pasti akan datang.
Aku tak habis pikir. Mengapa orang sedemikian baik justru 'dipanggil' dengan cara yang rasanya kurang pantas dia dapatkan. Maaf, harus kusebut, kecelakaan naas. Mengapa orang sebaik dia 'ditidurkan' dengan tragedi? Dimana letak keadilan Tuhan? Lama kupikirkan alasan mengapa Tuhan mengambilnya sedemikian cepat. Apakah tugasnya didunia telah selesai? Bagaimana dengan anak dan istri sepeninggalnya? Keluarganya? Tidak berhenti aku mempertanyakan. Diantara pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab tersebut aku sempat memikirkan tentang esensi cerita religi mengenai perilaku baik semasa hidup dan meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Itu pun belum juga menghasilkan jawaban apa-apa. Ibarat teori dangkal yang bertolak belakang dengan realita. Bertentangan. Memang kematian adalah rahasia Tuhan. Namun terkadang egoisme mengatakan bahwa kita butuh jawaban atas sebuah pertanyaan. Tak peduli dari mana sumber asalnya jawaban tersebut. Tak peduli baik atau buruk, benar atau salah, yang terpenting adalah jawaban yang membuat jiwa menjadi tenang (saat itu).
Cukup lama berselang, Tuhan (mungkin mau) menyampaikan jawaban-Nya mengenai pertanyaanku. Aku teringat tentang isi buku yang berjudul Dari Adam Hingga Isa. Diantara isinya ada yang menyebutkan tentang kisah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang melihat dua orang yang mati dengan cara berbeda, kemudian mempertanyakannya.
Orang pertama adalah raja yang zalim. Masa hidupnya dihabiskan untuk memerintah negerinya dengan menindas sebagian besar rakyatnya. Ketika raja tersebut mati, sebuah upacara duka dilaksanakan dengan megahnya. Dibuatkannya makam yang besar dengan karya ukiran yang penuh arti. Ditemankannya raja tersebut dengan bunga-bunga dan nyanyian-nyanyian untuk mengingatnya.
Orang kedua adalah ahli ibadah yang mengisi hidupnya dengan berbuat baik kepada sesama, jarang sekali meninggalkan ibadah kepada Tuhan, dan menghindari dosa-dosa besar. Sang sahabat Nabi SAW lantas melihatnya mati mengenaskan dengan tubuh yang dipatuki burung. Seakan-akan tidak ada penghormatan yang lebih baik bagi seorang yang bermartabat sedemikian mulia.
Nabi SAW pun mencoba menjelaskan bahwa Tuhan mengizinkan sang raja mati dalam keadaan dimuliakan oleh seisi dunia karena itulah cara-Nya untuk memberikan kemuliaan terakhir kepada raja tersebut di alam yang fana ini. Selepas dia mati, sang raja akan menghadapi siksa-Nya yang amat pedih, tanpa setitikpun kemuliaan yang akan Dia beri setelahnya.
Sebaliknya, Tuhan membiarkan jenazah sang ahli ibadah ditelantarkan dan dipatuki burung karena Dia ingin hamba tersebut menghadap-Nya dalam keadaan yang benar-benar suci. Bersih dari dosa dan hina. Segala sisa dosa orang tersebut dibayarkannya di dunia. Sehingga saat sang ahli ibadah tersebut wafat, tiada lagi tersisa sedikitpun kehinaan dan dia akan langsung diangkat oleh-Nya ke surga.
*** *** ***
Di keheningan malam aku memanjatkan doa untuk dapat bertemu lagi dengan sahabatku suatu hari nanti. Mungkin nanti, saat aku mati. Aku tidak minta kepada Tuhan akan sesuatu yang berlebihan. Aku hanya ingin ngobrol lagi dengannya seperti sedia kala. Itu saja. Kemudian hari berganti hingga duka mulai terlupakan. Apapun yang terjadi, kita yang kehilangan harus melanjutkan hidup dan memperjuangkan nasib masing-masing.
Seingatku ada satu malam yang lebih dingin dari biasanya. Aku melihat sahabatku sedang duduk dihadapankku. Di tempat yang kukenal, di ruang tengah kos di Bandung. Ia terdiam dan tersenyum. Lengkap dengan setelan rumahnya. Kaus oblong warna putih dan celana pendek birunya. Rasanya tiada yang aneh ketika melihatnya. Aku menanyakan kabarnya. Mengapa dia tidak pernah berubah sedari dulu, jika pergi jarang sekali memberitahu mau kemana. Sahabatku tidak bergeming. Diam saja tidak bersuara. Beberapa saat kemudian dia baru mau bicara setelah aku menanyakan satu hal, "Enak dong lo ya sekarang ngga wajib solat lagi...". Lalu dia berujar, "Kata siapa? Masih solat kok". Tak lama kemudian sahabatku hilang pelan-pelan bersamaan dengan bunyi alarm pukul enam.
Kubuka mata dan aku tersenyum kepada Tuhan. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya dan Dia memberikan nikmat-Nya pagi itu. Inilah cara Tuhan menjawab doa hamba-Nya yang meminta. Memang aku tidak dapat mengantarkannya ke peraduan terakhirnya, tetapi aku masih dapat menemuinya dengan cara yang berbeda. Apalagi memimpikan bahwa dia masih dapat merasakan nikmat shalat di kehidupan lain membuatku semakin berharap agar dia dimasukkan ke dalam golongan orang yang terpilih. Itu sudah jauh melebihi cukup untuk mensyukuri apa yang telah Tuhan beri.
Bukankah syahid adalah mereka yang mati dijalan-Mu ya Tuhan? Yang mati setelah bertanggungjawab atas keluarganya. Yang mati sebelum mencari nafkah atas nama-Mu juga. Yang mendapatkan kemuliaan dan pengecualian untuk melakukan apa saja sesuai kehendak-Mu. Yang pada akhir perjuangan mereka Engkau janjikan surga.
Lebih baik aku berpikir di sisi ini. Bahwa Tuhan terkadang mendatangkan kebahagiaan kepada satu orang yang melahirkan kesedihan bagi lebih banyak orang. Namun ini bukan lagi tentang dunia kita. Ini adalah dunia yang lebih baik dan nyata. Sepenuhnya cerita lain. Hidup baru yang seluruh akal penghuni dunia pun tidak akan pernah sanggup menggambarkannya. Sahabatku pernah berkata dulu bahwa kita tidak perlu menilai pekerjaan Tuhan karena segala yang Dia lakukan itu sempurna. Inilah aku kawan! Mengingat dan membuktikan kata-katamu dulu. Jika Tuhan menginginkanmu, seharusnya kita tidak perlu ragu. Apalagi bersedih.
Jauh dilubuk hati, aku berharap sahabatku saat ini berbagi tempat dengan sang ahli ibadah yang mulia. Semoga Tuhan tidak membiaskan pesan-Nya melalui arti kisah yang kubaca dan mimpi untuk bicara lagi dengannya. Memang, mimpi itu bukan kenyataan. Tapi aku tahu betul bahwa itu benar-benar dia.
Senyumlah selalu sahabat. Sahabat selamanya.
Dari Tilburg, Belanda 28 November 2011
#RememberingDipoAdriansyah
Tentang Senyum Seorang Sahabat
Ini adalah cerita tentang seorang sahabat. Hampir satu bulan lamanya setelah sahabatku itu pergi. Ke tempat yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh manusia pada umumnya. Cukup lama kutekuri kepergiannya hingga beberapa pesan tentang hidup muncul di kepala.
Sudah tiga belas tahun aku mengenal dia sejak pertama kali kita bertanding sepakbola di lapangan SMP N 115. Kemudian masuk sekolah menengah dan universitas yang sama. Dari rekan setim basket SMA hingga akhirnya menjadi rival di kampus. Bagaimanapun juga, kami ada di kos yang sama dengan kamar yang saling berhadapan. Setelah kelulusan tiba, dia bekerja di salah satu perusahaan energi kelas satu di dunia. Akhir-akhir ini kudengar dia dipromosikan menjadi salah satu team leader termuda di perusahaan tersebut.
Sahabatku itu adalah salah satu orang yang diam. Tidak banyak bicara kecuali jika diperlukan. Walaupun sesekali bercanda tentang tim sepakbola, ujian, atau gadis idamannya. Seringkali aku mendapatkannya mengurung diri di kamar. Membaca. Entah itu buku wajib calculus atau komik One Piece. Beberapa bulan setelah kelulusan, aku mendengar kabar bahwa dia akan menikahi gadisnya itu.
Kemudian kehidupan berjalan masing-masing. Tidak terlalu banyak cerita. Apa adanya saja.
*** *** ***
Pada tanggal 30 Oktober 2011 pukul 00.30 dini hari waktu Belanda, aku mendapatkan pesan pendek dari seorang teman. Berita duka. Sahabatku berada dalam minibus travel yang terguling di kilometer dua tol Pasteur, Bandung. Nyawanya tidak terselamatkan. Beritapun menyebar demikian cepatnya dan itu adalah saat dimana seluruh orang yang mengenalnya serentak berkata, "Tidak percaya!". Kudengar bahwa dia dalam perjalanan pulang menuju Jakarta setelah mengunjungi istri dan anaknya di Bandung beberapa jam sebelum musibah itu terjadi.
Bukan hanya aku, tetapi semua yang mengenalnya mengakui bahwa sahabatku merupakan salah satu orang yang berakhlak baik. Beberapa hari setelah pemakaman aku membaca beberapa tulisan dari rekan-rekan kampusnya. Seluruhnya menyebutkan tentang kesan dan pengalaman pribadi mereka dalam berinteraksi dengan sahabatku itu. Bagaimanapun juga Tuhan punya cerita lain. Diantara rentetan memori baik tersebut, Dia menyisipkan peringatan bagi kita semua. Bahwa ajal sepenuhnya menjadi kuasa-Nya. Sebuah panggilan yang pasti akan datang.
Aku tak habis pikir. Mengapa orang sedemikian baik justru 'dipanggil' dengan cara yang rasanya kurang pantas dia dapatkan. Maaf, harus kusebut, kecelakaan naas. Mengapa orang sebaik dia 'ditidurkan' dengan tragedi? Dimana letak keadilan Tuhan? Lama kupikirkan alasan mengapa Tuhan mengambilnya sedemikian cepat. Apakah tugasnya didunia telah selesai? Bagaimana dengan anak dan istri sepeninggalnya? Keluarganya? Tidak berhenti aku mempertanyakan. Diantara pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab tersebut aku sempat memikirkan tentang esensi cerita religi mengenai perilaku baik semasa hidup dan meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Itu pun belum juga menghasilkan jawaban apa-apa. Ibarat teori dangkal yang bertolak belakang dengan realita. Bertentangan. Memang kematian adalah rahasia Tuhan. Namun terkadang egoisme mengatakan bahwa kita butuh jawaban atas sebuah pertanyaan. Tak peduli dari mana sumber asalnya jawaban tersebut. Tak peduli baik atau buruk, benar atau salah, yang terpenting adalah jawaban yang membuat jiwa menjadi tenang (saat itu).
Cukup lama berselang, Tuhan (mungkin mau) menyampaikan jawaban-Nya mengenai pertanyaanku. Aku teringat tentang isi buku yang berjudul Dari Adam Hingga Isa. Diantara isinya ada yang menyebutkan tentang kisah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang melihat dua orang yang mati dengan cara berbeda, kemudian mempertanyakannya.
Orang pertama adalah raja yang zalim. Masa hidupnya dihabiskan untuk memerintah negerinya dengan menindas sebagian besar rakyatnya. Ketika raja tersebut mati, sebuah upacara duka dilaksanakan dengan megahnya. Dibuatkannya makam yang besar dengan karya ukiran yang penuh arti. Ditemankannya raja tersebut dengan bunga-bunga dan nyanyian-nyanyian untuk mengingatnya.
Orang kedua adalah ahli ibadah yang mengisi hidupnya dengan berbuat baik kepada sesama, jarang sekali meninggalkan ibadah kepada Tuhan, dan menghindari dosa-dosa besar. Sang sahabat Nabi SAW lantas melihatnya mati mengenaskan dengan tubuh yang dipatuki burung. Seakan-akan tidak ada penghormatan yang lebih baik bagi seorang yang bermartabat sedemikian mulia.
Nabi SAW pun mencoba menjelaskan bahwa Tuhan mengizinkan sang raja mati dalam keadaan dimuliakan oleh seisi dunia karena itulah cara-Nya untuk memberikan kemuliaan terakhir kepada raja tersebut di alam yang fana ini. Selepas dia mati, sang raja akan menghadapi siksa-Nya yang amat pedih, tanpa setitikpun kemuliaan yang akan Dia beri setelahnya.
Sebaliknya, Tuhan membiarkan jenazah sang ahli ibadah ditelantarkan dan dipatuki burung karena Dia ingin hamba tersebut menghadap-Nya dalam keadaan yang benar-benar suci. Bersih dari dosa dan hina. Segala sisa dosa orang tersebut dibayarkannya di dunia. Sehingga saat sang ahli ibadah tersebut wafat, tiada lagi tersisa sedikitpun kehinaan dan dia akan langsung diangkat oleh-Nya ke surga.
*** *** ***
Di keheningan malam aku memanjatkan doa untuk dapat bertemu lagi dengan sahabatku suatu hari nanti. Mungkin nanti, saat aku mati. Aku tidak minta kepada Tuhan akan sesuatu yang berlebihan. Aku hanya ingin ngobrol lagi dengannya seperti sedia kala. Itu saja. Kemudian hari berganti hingga duka mulai terlupakan. Apapun yang terjadi, kita yang kehilangan harus melanjutkan hidup dan memperjuangkan nasib masing-masing.
Seingatku ada satu malam yang lebih dingin dari biasanya. Aku melihat sahabatku sedang duduk dihadapankku. Di tempat yang kukenal, di ruang tengah kos di Bandung. Ia terdiam dan tersenyum. Lengkap dengan setelan rumahnya. Kaus oblong warna putih dan celana pendek birunya. Rasanya tiada yang aneh ketika melihatnya. Aku menanyakan kabarnya. Mengapa dia tidak pernah berubah sedari dulu, jika pergi jarang sekali memberitahu mau kemana. Sahabatku tidak bergeming. Diam saja tidak bersuara. Beberapa saat kemudian dia baru mau bicara setelah aku menanyakan satu hal, "Enak dong lo ya sekarang ngga wajib solat lagi...". Lalu dia berujar, "Kata siapa? Masih solat kok". Tak lama kemudian sahabatku hilang pelan-pelan bersamaan dengan bunyi alarm pukul enam.
Kubuka mata dan aku tersenyum kepada Tuhan. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya dan Dia memberikan nikmat-Nya pagi itu. Inilah cara Tuhan menjawab doa hamba-Nya yang meminta. Memang aku tidak dapat mengantarkannya ke peraduan terakhirnya, tetapi aku masih dapat menemuinya dengan cara yang berbeda. Apalagi memimpikan bahwa dia masih dapat merasakan nikmat shalat di kehidupan lain membuatku semakin berharap agar dia dimasukkan ke dalam golongan orang yang terpilih. Itu sudah jauh melebihi cukup untuk mensyukuri apa yang telah Tuhan beri.
Bukankah syahid adalah mereka yang mati dijalan-Mu ya Tuhan? Yang mati setelah bertanggungjawab atas keluarganya. Yang mati sebelum mencari nafkah atas nama-Mu juga. Yang mendapatkan kemuliaan dan pengecualian untuk melakukan apa saja sesuai kehendak-Mu. Yang pada akhir perjuangan mereka Engkau janjikan surga.
Lebih baik aku berpikir di sisi ini. Bahwa Tuhan terkadang mendatangkan kebahagiaan kepada satu orang yang melahirkan kesedihan bagi lebih banyak orang. Namun ini bukan lagi tentang dunia kita. Ini adalah dunia yang lebih baik dan nyata. Sepenuhnya cerita lain. Hidup baru yang akal dunia pun tidak akan sanggup menggambarkannya. Sahabatku pernah berkata dulu bahwa kita tidak perlu menilai pekerjaan Tuhan karena segala yang Dia lakukan itu sempurna. Inilah aku kawan! Mengingat dan membuktikan kata-katamu dulu. Jika Tuhan menginginkanmu, seharusnya kita tidak perlu ragu. Apalagi bersedih.
Jauh dilubuk hati, aku berharap sahabatku saat ini berbagi tempat dengan sang ahli ibadah yang mulia. Semoga Tuhan tidak membiaskan pesan-Nya melalui arti kisah yang kubaca dan mimpi untuk bicara lagi dengannya. Memang, mimpi itu bukan kenyataan. Tapi aku tahu betul bahwa itu benar-benar dia.
Senyumlah selalu sahabat. Sahabat selamanya.
Dari Tilburg, Belanda 28 November 2011
#RememberingDipoAdriansyah